Itskaticali

Greek Video

Gio_emilyouhots New Albums for: collegegirlnextdoor threesome

Schaue alle Cam Shows von gio_emilyouhot online auf Recorded Tube. Die beliebteste Webcam Seite im Internet. Suchen Sie nach Ihren XXX Webcam. gio_emilyouhot threesome ticketshow with a cute babe. I like this video I don't like this video. % (1 vote). Add to Favourites · Watch Later · Add to New Playlist. gio_emilyouhot 2. Von. tonypictures. Album. Fucking and Sucking. Nische. Fucking / Sucking (falsch?) Datum. 30 November (vor 3 Jahre, 7 monate). gio_emilyouhot y christie_monteiro 9 (blooper). Von. tonypictures. Album. Funny, Fake, Unusual and Impressive. Nische. Fun (falsch?) Datum. 5 Januar gio_emilyouhot HD CAM SHOW @ CHATURBATE more of gio_emilyouhot http://​mellowstore.se

gio_emilyouhot threesome ticketshow with a cute babe. I like this video I don't like this video. % (1 vote). Add to Favourites · Watch Later · Add to New Playlist. gio_emilyouhot 2. Von. tonypictures. Album. Fucking and Sucking. Nische. Fucking / Sucking (falsch?) Datum. 30 November (vor 3 Jahre, 7 monate). 1 year ago; 0%. gio_emilyouhot webcam show Jan 3 views. gio_emilyouhot webcam show Jan 3 years ago; 66%.

BACKPAGE GIRL REVIEWS Gio_emilyouhots

Pro chat rooms Webcam Amateure Chaturbate. Beliebt Letzte aktualisierungen Länger. Masturbation Abspritzen Amateure. Cunnilingus Pornostar Tiny asian teens.
Dylan phoenix full videos 448
Gio_emilyouhots Nikki bends
Best instagram porn Mardi gras boobs
WIVES PORN Fitcougar
Gio_emilyouhots 353

Gio_emilyouhots Video

Insiden stroke di negara berkembang masih meningkat sedangkan di negara maju cenderung menurun.

Penurunan ini mungkin disebabkan karena manajemen hipertensi, penyakit jantung dan penyakit metabolik di negara maju telah makin baik. Memang sebagian besar dari kasus stroke dapat dikatakan merupakan bukti kegagalan pengobatan hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit metabolik.

Insiden stroke meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Setelah umur 55 tahun resiko stroke iskemik meningkat 2 kali lipat tiap dekade.

Menurut Schutz penderita yang berumur antara tahun banyak menderita perdarahan intrakranial Junaidi, Laki-laki cenderung untuk terkena stroke lebih tinggi dibandingkan wanita, dengan perbandingan 1,3 : 1, kecuali pada usia lanjut laki- laki dan wanita hampir tidak berbeda.

Pada laki-laki cenderung terkena stroke iskemik, Page 18 4 sedangkan wanita lebih sering menderita perdarahan subarachnoid dan kematiannya 2 kali lebih tinggi dibandingkan wanita Junaidi, Banyak penderita yang menjadi cacat, menjadi invalid, tidak mampu lagi mencari nafkah seperti sediakala, menjadi tergantung pada orang lain, dan tidak jarang yang menjadi beban keluarganya Lumbantobing, Stroke terdiri dari tiga stadium, yaitu stadium akut, stadium recovery, dan stadium residual Junaidi, Pada stadium akut terjadi oedema cerebri yang ditandai dengan abnormalitas dari tonus yaitu flaccid, berlangsung antara 1 sampai 3 minggu dari waktu terjadinya serangan.

Pada fase ini terjadi perbaikan neurologi dimana apabila diberikan penanganan yang baik di awal maka prognosis gerak dan fungsi semakin baik. Proses perbaikan atau penyembuhan yang sempurna atau mendekati sempurna terjadi pada fase pemulihan recovery.

Namun fase pemulihan ini tergantung dari topis lesi, derajat berat, kondisi tubuh pasien, ketaatan pasien dalam menjalani proses pemulihan, ketekunan, dan semangat penderita untuk sembuh.

Karena tanpa itu semua, dapat mengakibatkan hambatan dalam melakukan rehabilitasi. Pasien stroke stadium recovery menyebabkan perubahan tonus yang abnormal yang ditandai dengan peningkatan tonus.

Dengan adanya abnormal tonus secara postural spastisitas maka akan terjadi gangguan gerak yang dapat berakibat terjadinya gangguan aktifitas fungsional dan dapat menghalangi serta menghambat timbulnya keseimbangan Suyono, Page 19 5 Penanggulangan penderita stroke hendaknya dilakukan secara komprehensif oleh suatu tim, diantaranya adalah fisioterapi yang akan memberikan penanganan untuk mengajarkan kembali gerak dan fungsi pada penderita stroke.

Modalitas fisioterapi untuk penanganan stroke yaitu dengan terapi latihan. Rumusan Masalah Berdasarkan masalah yang timbul pada pasien stroke haemoragik stadium recovery, penulis ingin mengetahui manfaat penatalaksanaan terapi latihan pasca stroke haemoragik stadium recovery.

Maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut : Apakah terapi latihan berupa breathing exercise, latihan koordinasi dan keseimbangan, latihan fungsional dan latihan peningkatan kekuatan otot dapat meningkatkan kemampuan fungsional.

Page 20 6 C. Tujuan Umum Untuk mengetahui kondisi atau masalah yang dijumpai pada stroke yang ditandai dengan gangguan gerak dan fungsional serta penatalaksanaan fisioterapi pada kasus stoke.

Tujuan Khusus 1. Mengetahui manfaat terapi latihan dapat mengurangi timbulnya spastisitas yang berlebihan?

Mengetahui manfaat breathing exercise dapat mencegah terjadinya penumpukan cairan muskus akibat tirah baring lama?

Mengetahui manfaat latihan koordinasi dan keseimbangan dapat memperbaiki koordinasi dan keseimbangan? Mengetahui manfaat latihan fungsional dapat mengembalikan kemampuan aktivitas fungsional?

Deskripsi Kasus 1. Anatomi Fungsional a. Anatomi Otak Sistem saraf merupakan salah satu sistem dalam tubuh yang dapat berfungsi sebagai media komunikasi antar sel maupun organ dan dapat berfungsi sebagai pengendali berbagai sistem organ lain yang berjalan relatif cepat dibandingkan dengan sistem humoral, karena komunikasi berjalan melalui proses penghantaran impuls listrik disepanjang saraf.

Berdasarkan struktur dan fungsinya, sistem saraf secara garis besar dapat dibagi dalam sistem saraf pusat SSP yang terdiri dari otak dan medula spinalis dan sistem saraf tepi SST.

Didalam sistem saraf pusat terjadi berbagai proses analisis informasi yang masuk serta proses sintesis dan mengintegrasikannya Singgih, Otak merupakan bagian sistem saraf pusat dimana dalam pembagiannya digolongkan menjadi korteks serebri, ganglia basalis, thalamus dan hypothalamus, mesenchepalon, batang otak, dan serebelum.

Bagian ini dilindungi oleh tiga selaput pelindung meningens yaitu duramater, arachnoidea, piamater dan dilindungi oleh tulang tengkorak Chusid, Otak terdiri dari neuron — neuron, sel glia, cairan serebrospinalis, dan pembuluh darah.

Semua orang memiliki jumlah neuron yang sama yaitu sekitar Page 22 8 miliar tetapi jumlah koneksi diantara berbagai neuron tersebut berbeda — beda.

Dalam pembahasan ini, penulis akan menjelaskan tentang 1 kortek serebri, 2 upper motor neuron yang terdiri dari traktus piramidalis dan traktus ekstrapiramidalis, 3 vaskularisasi otak dan 4 plastisitas otak.

Kortek serebri Cortex cerebri merupakan bagian terluar dari hemispherium cerebri. Pada permukaan cortex cerebri terdapat alur—alur atau parit—parit, yang dikenal dengan sulcus.

Sedangkan bagian yang terletak diantara alur—alur atau parit—parit ini dinamakan gyrus. Sulcus dan gyrus ini membagi otak menjadi lobus-lobus yang namanya sesuai dengan nama tulang tengkorak yang menutupinya.

Chusid, Berikut beberapa daerah yang penting ; 1 lobus frontalis : area 4 merupakan daerah motorik yang utama.

Terletak disebelah anterior sulkus sentralis. Lesi daerah ini akan menghasilkan parese atau paralysis flaccid kontralateral pada kelompok otot yang sesuai.

Area 6 merupakan bagian sirkuit traktus extrapiramidalis. Spasitas lebih sering terjadi jika area 6 mengalami ablatio. Area 8 berhubungan dengan pergerakan mata dan perubahan pupil.

Area 9, 10, 11, 12 adalah daerah asosiasi frontalis. Area 5 dan 7 adalah daerah asosiasi sensorik. Area 42 merupakan kortek auditorius sekunder atau asosiasi.

Area 38, 40, 20, 21, dan 22 adalah daerah asosiasi, disini terjadi pemrosesan bentuk-bentuk masukan sensorik yang lebih elemental.

Lihat Gambar 2. Page 25 Keterangan gambar 2. Traktus piramidalis Traktus piramidalis disebut juga sebagai traktus kortikospinalis, serabut traktus piramidalis muncul sebagai sel-sel betz yang terletak dilapisan kelima kortek serebri.

Sekitar sepertiga serabut ini berasal dari kortek motorik primer area 4 , sepertiga dari kortek motorik sekunder area 6 , dan sepertiga dari lobus parietalis area 3, area 1, dan area 2 Snell, Serabut traktus piramidalis akan meninggalkan kortek motorik menuju korona radiata substansia alba serebrum kearah ekstremitas posterior kapsula interna masuk ke diesefalon di teruskan ke mesencephalon, pons varolli sampai medulla oblongata.

Lintasan piramidal ini akan memberikan pengaruh berupa eksitasi terhadap serabut ekstrafusal yang berfungsi dalam gerak volunter. Sehingga bila terjadi gangguan pada lintasan piramidal ini maka akan terjadi gangguan gerak volunter pada otot rangka bagian kontralateral Chusid, Talamus 2.

Traktus kortikopontis 3. Pedunkulus cerebral 4. Pons 5. Medulla oblongata 6. Traktus kortikospinalis lateral menyilang 7.

Lempeng akhir motorik 8. Traktus kortikospinalis anterior langsung 9. Dekusasio pyramidalis Pyramida Traktus kortikospinalis pyramidalis Traktus kortikonuklearis Traktus kortikomesensefalitis Kaput nukleus kaudatus Kapsula interna Nukleus lentikularis Kauda nukleus kaudatus Page 29 13 c.

Traktus ekstrapiramidalis Sistem ekstrapiramidalis tersusun atas corpus striatum, globus pallidus, thalamus, substantia nigra, formatio lentikularis, cerebellum dan cortex motorik.

Traktus ekstrapiramidalis merupakan suatu mekanisme yang tersusun dari jalur- jalur dari cortex motorik menuju Anterior Horn Cell AHC.

Fungsi utama dari sistem ekstrapiramidalis berhubungan dengan gerakan yang berkaitan, pengaturan sikap tubuh, dan integrasi otonom.

Lesi pada setiap tingkat dalam sistem ekstrapiramidalis dapat mengaburkan atau menghilangkan gerakan dibawah sadar dan menggantikannya dengan gerakan dibawah sadar dan menggantikannya dengan gerakan diluar sadar involuntary movement Chusid, Susunan ekstrapiramidalis terdiri dari corpus stratum, globus palidus, inti- inti talamik, nucleus subthalamicus, substansia grisea, formassio reticularis batang otak, serebellum dengan korteks motorik area 4, 6, dan 8.

Komponen tersebut dihubungkan antara satu dengan yang lain dengan masing-masing akson dari komponen tersebut sehingga terdapat lintasan yang melingkar yang disebut sirkuit Sidharta, Lesi pada setiap tingkat dalam sistem ekstrapiramidalis dapat mengaburkan atau mehilangkan gerakan dibawah sadar voluntary dengan gerakan diluar sadar involuntary movement dan timbulnya spastisitas dianggap menunjukkan gangguan pada lintasan ekstrapiramidal Chusid, Traktus frontopontin 2.

Traktus kortikospinalis dengan serat ekstrapyramidalis 3. Thalamus 4. Kaput nukleus kaudatus 5. Nukleus tegmental 6. Nuklei ruber 7. Substansia nigra 8.

Traktus tegmentus sentralis 9. Oliva inferior Pyramid Traktus retikulospinalis Traktus tektospinalis Traktus kortikospinalis anterior Traktus kortikospinalis lateral Traktus vestibulospinalis Traktus rubrospinalis Nukleus lateral nervus vestibularis Formasio retikularis Dari cerebellum nukleus fastigialis Nuklei pontis Traktus oksipitomesensefalik Traktus parietotemporopontin Page 32 15 d.

Otak juga membutuhkan banyak oksigen. Menurut penelitian kebutuhan fital jaringan otak akan oksigen dicerminkan dengan melakukan percobaan dengan menggunakan kucing.

Para peneliti menemukan lesi permanen yang berat didalam kortek kucing setelah sirkulasi darah otaknya di hentikan selama 3 menit.

Pengaliran darah keotak dilakukan oleh dua pembuluh arteri utama yaitu oleh sepasang arteri karotis interna dan sepasang arteria vertebralis.

Keempat arteria ini terletak didalam ruang subarakhnoid dan cabang-cabangnya beranastomosis pada permukaan inferior otak untuk membentuk circulus willisi.

Arteri carotis interna, arteri basilaris, arteri cerebri anterior, arteri communicans anterior, arteri cerebri posterior dan arteri comminicans posterior dan arteria basilaris ikut membentuk sirkulus ini Snell, Vaskularisasi susunan saraf pusat sangat berkaitan dengan tingkat kegiatam metabolisme pada bagian tertentu dan ini berkaitan dengan banyak sedikitnya dendrit dan sinaps di daerah tersebut Sidharta, Menurut Chusid , pokok anastomose pembuluh darah arteri yang penting didalam jaringan otak adalah circulus willisi.

Darah mencapai circulus willisi interna dan arteri vertebralis. Sebagian anastomose terjadi diantara cabang-cabang arteriole di circulus willisi pada substantia alba subscortex.

Page 33 16 Arteria carotis interna berakhir pada arteri cerebri anterior dan arteri cerebri media.

Di dekat akhir arteri carotis interna dari pembuluh arteri comunicans posterior yang bersatu kearah caudal dengan arteri cerebri posterior.

Arteri cerebri anterior saling berhubungan melalui arteri comunicans anterior. Arteri basilaris dibentuk dari persambungan antara arteri-arteri vertebralis.

Pemberian darah ke certex terutama melalui cabang-cabang kortikal dari arteri cerebri anterior, arteri cerebri media dan arteri cerebri posterior, yang mencapai cortex di dalam piamater.

Faktor yang mempengaruhi aliran darah di otak, diantaranya adalah 1 keadaan arteri, dapat menyempit karena tersumbat oleh thrombus dan embolus, 2 keadaan darah, dapat mempengaruhi aliran darah dan suplai oksigen, 3 keadaan jantung, bila ada kelainan dapat mengakibatkan iskemia di otak Lumbantobing, Page 34 17 Keterangan gambar 1.

Anterior communicating artery 2. Middle cerebral artery 3. Lenticulostriate artery 4. Posterior cofmmunicating artery 5.

Basilar artery 6. Pontine artery 7. Internal auditory artery 8. Posterior inferior cerebellar artery 9. Verteral artery Anterior spinal artery Anterior inferior cerebellar artery Superior cerebellar artery Anterior coroidal artery Internal carotid artery Anterior cerebral artery Gambar 2.

Stroke Stroke adalah cedera vaskuler akut pada otak. Cedera dapat disebabkan oleh sumbatan bekuan darah, penyempitan pembuluh darah, sumbatan dan penyempitan, atau pecahnya pembuluh darah.

Semua ini menyebabkan kurangnya pasokan darah yang memadai Feigin, Page 35 18 Stroke Non haemoragik atau iskemik, yaitu suatu gangguan fungsional otak akibat gangguan aliran darah ke otak karena adanya bekuan darah yang telah menyumbat aliran darah Yastoki, Pada stroke non haemoragik aliran darah ke sebagian jaringan otak berkurang atau berhenti.

Hal ini bias disebabkan oleh sumbatan thrombus, embolus atau kelainan jantung yang mengakibatkan curah jantung berkurang atau oleh tekanan perfusi yang menurun Lumbantobing, Sedangkan menurut Feigin, stroke haemoragik disebabkan oleh perdarahan kedalam jaringan otak disebut haemoragia intraserebrum atau hematom intraserebrum atau kedalam ruang subaraknoid, yaitu ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak disebut haemoragia subaraknoid.

Stadium recovery adalah suatu tahapan ataupun proses patologi stroke. Pada stadium ini terjadi reabsorpsi udema, sehingga proses desak ruang akut yang terjadi di dalam otak berangsur-angsur menurun, aktivitas refleks spinal sudah dapat berfungsi tetapi belum mendapat kontrol dari sistem supraspinal Kuntono, Berat ringannya dampak serangan stroke sangat bervariasi tergantung pada lokasi dan luas daerah otak yang rusak.

Bila aliran darah terputus hanya pada area yang kecil atau terjadi pada daerah otak yang rawan, efeknya ringan dan berlangsung sementara.

Sebaliknya bila aliran darah terputus pada area yang luas atau pada bagian otak yang vital akan terjadi kelumpuhan yang parah sampai pada kematian Vitahelth, Page 36 19 3.

Etiologi Berdasarkan etiologi Hinton membagi stroke menjadi dua : 1 Stroke hemoragik yaitu suatu gangguan fungsi saraf yang disebabkan kerusakan pembuluh darah otak sehingga menyebabkan pendarahan pada area tersebut.

Faktor resiko stroke menurut Feigin dibagi menjadi dua yaitu faktor resiko yang dapat dimodifikasi seperti gaya hidup dan faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti penuaan, kecenderungan genetik, dan suku bangsa.

Faktor resiko yang terpenting adalah : Page 37 20 a. Hipertensi Tekanan darah yang tinggi secara terus-menerus menambah beban pembuluh arteri perlahan-lahan.

Arteri mengalami proses pengerasan menjadi tebal dan kaku sehingga mengurangi elastisitasnya. Hal ini dapat pula merusak dinding arteri dan mendorong proses terbentuknya pengendapan plak pada arteri koroner.

Hal ini meningkatkan resistensi pada aliran darah yang pada gilirannya menambah naiknya tekanan darah. Semakin berat kondisi hipertensi, semakin besar pula faktor resiko yang ditimbulkan Soeharto, Penyakit jantung Emboli yang terbentuk dijantung akibat adanya kelainan pada arteri jantung trutama arteria coronaria dapat terlepas dan dapat mengalir ke otak sehingga dapat menyumbat arteri di otak dan dapat mencetuskan stroke ischemia Feigin, Diabetes mellitus Diabetes mellitus dapat menimbulkan perubahan pada system vaskuler pembuluh darah dan jantung serta memicu terjadinya aterosklerosis Feigin, Merokok Asap rokok yang mengandung nikotin yang memacu pengeluaran zat-zat seperti adrenalin dapat merangsang denyut jantung dan tekanan darah.

Kandungan carbonmonoksida dalam rokok memiliki kemampuan jauh lebih kuat daripada sel darah merah hemoglobin untuk menarik atau menyerap oksigen sehingga Page 38 21 kapasitas darah yang mengangkut oksigen ke jaringan lain terutama jantung menjadi berkurang.

Hal ini akan mempercepat terjadinya stroke ischemia bila seseorang sudah mempunyai penyakit jantung Soeharto, Makanan yang tidak sehat Jika seseorang mengkonsumsi kalori lebih banyak daripada yang mereka gunakan dalam aktivitas sehari-hari, kelebihan kalori tersebut akan diubah menjadi lemak yang menumpuk di dalam tubuh Feigin, Patologi Telah disebutkan sebelumnya bahwa stroke haemoragik adalah perdarahan ke dalam jaringan otak.

Perdarahan dari sebuah arteri intrakranium biasanya disebabkan oleh aneurisma arteri yang melebar yang pecah atau karena suatu penyakit.

Stroke menyerang pada susunan sraf pusat maka lesi yang diakibatkan termasuk pada lesi upper motor neuron. Hemiplegi yang diakibatkan lesi pada kortek motor primer bersifat kontralateral, kerusakan yang menyeluruh namun belum meruntuhkan semua neuron kortek pyramidal sesisi, menimbulkan kelumpuhan pada belahan tubuh kontraleteral dari yang ringan sampai sedang.

Meskipun yang terkena sisi tubuh kanan atau kiri pada umumnya terdapat berbedaan antara lengan dan tungkai, perbedaan tersebut nampak jika kerusakan pada tingkat korteks namun jika kerusakan pada tingkat kapsula interna maka hemiplegi tidak ada perbedaan.

Kerusakan atau kelumpuhan yang dikarenakan lesi pada kapsula interna hampir selamanya disertai hipertonus yang khas hal ini dikarenakan pada kapsula interna dilewati serabut serabut ekstrapiramidal.

Tergantung pada arteri yang terkena maka lesi vaskular yang terjadi di kapsula interna dapat mengakibatkan kerusakan area disekitarnya seperti radiasio optika, nucleus kaudatus dan putamen sehingga hemiplegia akibat lesi kapsula interna memperihatkan kelumpuhan upper motor neuron yang disertai oleh rigiditas, atetosis, distonia tremor atau hemianopia.

Gambaran klinis utama yang dapat dikaitkan dengan pembuluh darah otak yang pecah adalah sebagai berikut : Page 40 23 1 Kerusakan pada vertebro basilaris sirkulasi posterior mengakibatkan terjadinya kelemahan pada satu atau keempat anggota gerak, peningkatan reflek tendon, ataksia, tanda babinsky bilateral, disfagia, disartria, koma, gangguan daya ingat, gangguan penglihatan dan muka baal.

Lokasi yang paling sering terkena pada bifurkasio arteri karotis komunis menjadi arteri karotis interna dan eksterna.

Tanda tandanya adalah anggota gerak atas terasa lemah dan baal, bila hemisfer dominan maka dapat terjadi afasia ekspresif. Page 41 24 5. Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang ditimbulkan sangat bervariasi tergantung dari topis dan derajat beratnya lesi.

Akan tetapi tanda dan gejala yang dijumpai pada penderita pasca stroke haemoragik stadium akut secara umum meliputi 1 gangguan motorik : kelemahan atau kelumpuhan separo anggota gerak, gangguan gerak volunter, gangguan keseimbangan, gangguan koordinasi, 2 gangguan sensoris : gangguan perasaan, kesemutan, rasa tebal-tebal, 3 gangguan bicara : sulit berbahasa disfasia , tidak bisa bicara afasia motorik , tidak bisa memahami bicara orang afasia sensorik , 4 gangguan kognitif Soetedjo, , dalam Rujito, Komplikasi Komplikasi yang akan timbul apabila pasien stroke tidak mendapat penanganan yang baik.

Komplikasi yang dapat muncul antara lain Suyono, : a. Abnormal tonus Abnormal tonus secara postural mengakibatkan spastisitas.

Serta dapat menggangu gerak dan menghambat terjadinya keseimbangan. Sindrom bahu Sindrom bahu merupakan komplikasi dari stroke yang dialami sebagian pasien.

Pasien merasakan nyeri dan kaku pada bahu yang lesi akibat imobilisasi. Page 42 25 c. Deep vein trombosis Deep vein trombosis akibat tirah baring yang lama, memungkinkan trombus terbentuk di pembuluh darah balik pada bagian yang lesi.

Hal ini menyebabkan oedem pada tungkai bawah. Orthostatic hypotension Orthostatic hypotension terjadi akibat kelainan barometer pada batang otak.

Penurunan tekanan darah di otak mengakibatkan otak kekurangan darah. Kontraktur Kontraktur terjadi karena adanya pola sinergis dan spastisitas.

Apabila dibiarkan dalam waktu yang lama akan menyebabkan otot-otot mengecil dan memendek. Prognosis Apabila pasien dapat mengatasi serangan stroke recovery, prognosis untuk kehidupannya baik.

Dengan rehabilitasi yang aktif, banyak penderita dapat berjalan lagi dan mengurus dirinya. Prognosis buruk, bagi penderita yang disertai dengan aphasia sensorik Chusid, Menurut Chusid prognosis trombosis serebri ditentukan oleh lokasi dan luasnya infark, juga keadaan umum pasien.

Makin lambat penyembuhannya maka akan semakin buruk prognosisnya, pada emboli serebri prognosis juga ditentukan oleh adanya emboli dalam organ-organ lain, disamping itu penanganan yang tepat dan cepat serta kerjasama tim medis dengan penderita mempengaruhi Page 43 26 prognosis dari stroke.

Oleh karena itu, stroke yang ringan dengan penanganan yang tepat sedini mungkin dengan kerjasama yang baik antara tim medis dan penderita akan menjadikan prognosis yang baik, sedangkan pada kondisi sebaliknya prognosis akan menjadi buruk karena dapat menimbulkan kecacatan yang permanen bahkan juga kematian.

Diagnosis Banding Diagnossis banding antara stroke iskemik dan stroke hemoragik yaitu pada stroke iskemik ada nyeri kepala ringan, gangguan kesadaran ringan atau tidak ada, dan defisit neurologis atau kelumpuhan berat.

Sedangkan pada stroke hemoragik ada nyeri kepala yang berat, gangguan kesadaran sedang sampai berat, dan defisit neurologis ada yang ringan dan ada yang berat Junaidi, Tapi jika lebih spesifik lagi, diagnosa banding penyebab stroke non hemoragik, yaitu thrombosis dan emboli menurut Chusid yaitu onset yang relatif lambat menyokong diagnosa thrombosis.

Sedang endocarditis infeksiosa, fibrilasi atrium dan infark myocard menyokong diagnosa emboli. Ada beberapa penyakit yang memiliki tanda dan gejala yang menyerupai penyakit stroke, misalnya trauma kepala, tumor intracranial massa, hematoma, edema , meningitis atau virus.

Page 44 27 B. Problematik Fisioterapi Problematik fisioterapi pada pasien stroke stadium recovery menimbulkan tingkat gangguan. Impairment Impairment atau gangguan tingkat jaringan yaitu gangguan tonus otot secara postural, semakin tinggi tonus otot maka akan terjadi spastisitas ke arah fleksi atau ektensi yang mengakibatkan terganggunya gerak ke arah normal.

Sehingga terjadi gangguan kokontraksi dan koordinasi yang halus dan bertujuan pada kecepatan dan ketepatan gerak anggota gerak atas dan bawah pada sisi lesi.

Serta dapat mengakibatkan gangguan dalam reaksi tegak, mempertahankan keseimbangan atau protective reaction anggota gerak atas dan bawah pada sisi lesi saat melakukan gerakan 2.

Functional limitation Functional limitation yang timbul adalah terjadi penurunan kemampuan motorik fungsional.

Penurunan kemampuan dalam melakukan aktifitas dari tidur terlentang seperti mampu melakukan gerakan tangan dan kaki secara aktif saat miring, terlentang duduk disamping bed seperti mampu melakukan gerakan menggangkat kepala namun saat menurunkan kaki butuh bantuan orang lain agar mampu duduk disamping bed, keseimbangan duduk seperti kurang mampu Page 45 28 mempertahankan keseimbangan duduk, dari duduk ke berdiri seperti masih membutuhkan bantuan orang lain, berjalan seperti masih membutuhkan bantuan dari orang lain, fungsi anggota gerak atas seperti gerakan mempertahankan posisi lengan ke segala arah dan pergerakkan tangan yang terampil seperti mengambil benda dan memindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

Disability Yang termasuk dalam disability adalah terjadi ketidakmampuan melakukan aktifitas sosial dan berinteraksi dengan lingkungan. Seperti gangguan dalam melakukan aktivitas bekerja karena gangguan psikis dan fisik.

Teknologi Intervensi Fisioterapi Pemilihan intervensi fisioterapi harus disesuaikan dengan kondisi pasien.

Dimana dalam metode pendekatan fisioterapi itu harus banyak variasinya agar pasien tidak bosan dalam melakukan rehabilitasi.

Ada yang berpendapat bahwa pendekatan fisioterapi pada pasien stroke itu tidak menggunakan satu metode saja melainkan dengan penggabungan yang disusun sedemikian rupa sesuia dengan kondisi dan kemampuan pasien agar memperoleh hasil yang maksimal Suyono, Pendekatan yang dilakukan fisioterapi antara lain adalah terapi latihan, yang terdiri dari breathing eercise, latihan dengan mekanisme reflek postur, latihan weight bearing, latihan keseimbangan dan koordinasi, dan latihan fungsional.

Page 46 29 1. Breathing Exercise Breathing exercise adalah salah satu bentuk latihan pernafasan yang ditujukan untuk mencegah penurunan fungsional sistem respirasi.

Tirah baring yang cukup lama dan toleransi aktivitas yang menurun mengakibatkan penurunan metabolisme secara umum.

Breathing exercise dilakukan sebelum dan sesudah latihan diberikan kepada pasien. Metode yang dipilih adalah deep breathing exercise.

Deep breathing exercise adalah bagian dari brething exercise yang menekankan pada inspirasi maksimal yang panjang yang dimulai dari akhir ekspirasi dengan tujuan untuk meningkatkan volume paru, meningkatkan redistribusi ventilasi, mempertahankan alveolus agar tetap mengembang, meningkatkan oksigenasi, membantu membersihkan sekresi mukosa, mobilitas sangkar thorak, dan meningkatkan kekuatan dan daya tahan serta efisiensi dari otot-otot pernafasan Levenson, Latihan dengan mekanisme reflek postur Gangguan tonus otot spastisitas secara postural pada pasien stroke, dapat mengakibatkan gangguan gerak.

Melalui latihan dengan mekanisme reflek postur dengan cara mengontrol spastisitas secara postural mendekati status normal, maka Page 47 30 seseorang akan lebih mudah untuk melakukan gerakan volunter dan mengontrol spastisitas otot secara postural Rahayu, Konsep dalam melakukan latihan ini adalah mengembangkan kemampuan gerak normal untuk mencegah spastisitas dengan menghambat gerakan yang abnormal dan mengembangkan kontrol gerakan Rahayu, Dalam upaya melakukan penghambatan maka perlu adanya penguasaan teknik pemegangan Key Point of Control Suyono, Bentuk latihannya antara lain : a Mobilisasi trunk Menurut Davies salah satu latihan melalui mekanisme reflek postural adalah mobilisasi trunk seperti gerakan fleksi, ektensi, dan rotasi trunk.

Latihan mobilisasi trunk merupakan komponen keseimbangan serta akan menghambat pola spastisitas melalui gerakan rileksasi dari trunk..

Salah satunya adalah latihan rotasi trunk, gerak rotasi merupakan komponen gerak yang sangat penting untuk menunjang fungsi tubuh Suyono, Latihan ini bertujuan untuk menurunkan spastisitas serta dapat melakukan gerakan yang selektif hingga menuju ke aktivitas fungsional seperti latihan menghambat ektensor tungkai khususnya pada kaki untuk mempersiapkan tungkai saat berjalan agar tidak terjadi droop foot Davies, Page 48 31 3.

Latihan weight bearing Latihan weight bearing untuk mengontrol spastisitas pada ekstremitas dalam keadaan spastis. Melalui latihan ini diharapkan mampu merangsang kembali fungsi pada persendian untuk menyangga.

Latihan ini berupa mengenalkan kembali bentuk permukaan benda yang bervariasi kepada sisi yang lumpuh agar kembali terbentuk mekanisme feed back gerakan yang utuh Rahayu, Latihan weight bearing dapat dilakukan saat duduk dan berdiri.

Latihan weight bearing saat duduk bisa melakukan gerak menumpu berat badan ke belakang, depan dan samping kanan serta kiri.

Sedangkan latihan weight bearing saat berdiri bisa melakukan gerakan menumpu berat badan kedepan dan belakang. Latihan weight bearing saat berdiri bertujuan untuk mempersiapkan latihan berjalan agar tidak ada keraguan dalam melangkah karena adanya spastisitas Davies, Latihan keseimbangan dan koordinasi Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke stadium recovery sebaiknya dilakukan dengan gerakan aktif dari pasien dan dilakukan pada posisi terlentang, duduk dan berdiri.

Latihan aktif dapat melatih keseimbangan dan koordinasi untuk membantu pengembalian fungsi normal serta melalui latihan perbaikan koordinasi dapat meningkatkan stabilitas postur atau kemampuan mempertahankan tonus ke arah normal Pudjiastuti, Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery dapat Page 49 32 dilakukan secara bertahap dengan peningkatan tingkat kesulitan dan penambahan banyaknya repetisi.

Latihan keseimbangan dapat dilakukan pada posisi duduk dan berdiri. Latihan ini merupakan latihan untuk meningkatkan reaksi keseimbangan equilibrium berbagai keadaan serta merupakan komponen dasar dalam kemampuan gerak untuk menjaga diri, bekerja dan melakukan berbagai kegiatan dalam kehidupan sehari-hari Davies, Latihan keseimbangan dan koordinasi merupakan latihan yang saling berkaitan yang dapat menimbulkan gerak volunter Rahayu, Latihan fungsional Pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery terjadi gerak anggota tubuh yang lesi dengan total gerak sinergis sehingga dapat membatasi dalam gerak untuk aktivitas fungsional dan membentuk pola abnormal Rahayu, Latihan fungsional dimaksudkan untuk melatih pasien agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri tanpa menggantungkan penuh kepada orang lain.

Latihan fungsional berupa latihan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Jika latihan fungsional dilakukan berulang — ulang akan menjadikan pengalaman yang relatif permanen atau menetap dan akhirnya akan menjadi sebuah pengalaman gerak yang otomatis Suyono, Latihan fungsional seperti latihan briging, latihan duduk ke berdiri dan latihan jalan.

Latihan briging untuk mobilisasi pelvis agar dapat stabil dan menimbulkan gerakan ritmis saat berjalan Johnstone, Latihan duduk ke Page 50 33 berdiri merupakan latihan untuk memperkuat otot-otot tungkai dan mempersiapkan latihan berdiri Davies, Latihan jalan merupakan komponen yang sangat penting agar pasien dapat melakukan aktivitas berjalan dengan pola yang benar Davies, Rencana penelitian adalah suatu konsep pelaksanaan program sesuai dengan perencanaan, yang sesuai teknis sesuai prosedur-prosedur pada masing-masing metodelogi dan dalam penelitian tersebut sesuai prinsip- prinsip pencatatan dalam proses Fisioterapi.

Kasus Terpilih Dalam hal ini penulis memilih kasus stroke hemorage stadium recovery pada Ny. Penulis memilih kasus ini dikarenakan pasien dianggap mampu untuk dijadikan objek penelitian mulai dari hari kedua puluh empat serangan stroke hemorage sampai pasien pulih.

Sehingga menurut penulis, hasil penelitian dari terapi latihan pada stroke hemorage dapat menggambarkan perubahan kekuatan otot menjadi bertambah.

Instrument Penelitian 1 Variabel Dependent Dalam penelitian ini variabel dependentnya adalah kelemahan anggota gerak kanan, penurunan kekuatan otot anggota gerak kanan, potensial kontraktur, dekubitus dan penurunan kemampuan fungsional.

Page 52 35 a. Definisi konseptual 1. Spastisitas adalah kekakuan yang disebabkan oleh meningkatnya tonus otot.

Breathing exercise adalah salah satu bentuk latihan pernafasan yang ditunjukan untuk mencegah penurunan fungsional sistem respirasi.

Latihan koordinasi dan keseimbangan adalah latihan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat koordinasi pasien dan keseimbangan.

Latihan fungsional adalah latihan yang dilakukan untuk meningkatkan aktifitas fungsional dasar yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya gangguan motorik saat pasien melakukan aktifitas.

Latihan peningkatan kekuatan otot adalah latihan gerak secara aktif yang dilakukan oleh pasien pada semua sendi dan gerakanya.

Definisi operasional 1. Pemeriksaan tonus otot Pemeriksaan tonus otot dilakukan dengan gerakan pasif yang semakin cepat pada anggota gerak yang lesi, penilaian menggunakan skala Asworth yang dimodifikasi.

TABEL 3. Pemeriksaan cairan mukus Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya penumpukan cairan mukus.

Pemeriksaan dilakukan dengan cara mendengarkan paru-paru menggunakan stetoskop. Pemeriksaan Koordinasi Non Equilibrium Pemeriksaan koordinasi dilakukan untuk mengetahui tingkat koordinasi pasien saat dilakukan tes koordinasi selain factor kemampuan melainkan gerakan, factor kecepatan juga harus dipertimbangkan.

Tidak mampu melakukan aktifitas 2. Keterbatasan berat, hanya dapat mengawali aktifitas tetapi tidak lengkap 3. Keterbatasan sedang, dapat menyelesaikan aktifitas tetapi koordinasi tampak menurun dengan jelas, gerakan lambat, kaku dan tidak setabil 4.

Keterbatasan minimal, dapat menyelesaikan aktifitas dengan kecepatan dan kemampuan lebih lambat sedikit disbanding normal 5. Kemampuan normal 4.

Pemeriksaan Fungsi Motorik Pemeriksaan motorik dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan motorik saat pasien melakukan aktifitas.

Pemeriksaan ini dilakukan pada gerak terlentang ke tidur miring pada sisi Page 55 38 sehat, terlentang ke duduk disamping bed, keseimbangan duduk, duduk ke berdiri.

Jangan biarkan pasien untuk menahan. Jangan biarkan lutut dan telapak kaki untuk bergerak. Sangga lengan yang lemah bila perlu.

Tangan harus menyentuh lantai paling tidak 10 cm didepan telapak kaki. Raih dengan masing-masing lengan.

Sangga lengan yang lemah jika perlu. Pasien harus meraih kesamping, bukan ke depan. Raih kedua sisi kanan kiri. Pemeriksaan kekuatan otot Pemeriksaan kekuatan otot ini dilakukan untuk membantu menegakkan diagnose fisioterapi dan jenis latihan yang diberikan, dan dapat menentukan prognosis pasien serta dapat digunakan sebagai bahan evaluasi.

Maka pemeriksaan kekuatan otot dianggap penting. Parameter yang digunakan untuk mengetahui nilai kekuatan otot adalah pemeriksaan kekuatan otot secara manual atau manual muscle testing MMT dengan ketentuan sebagai berikut : TABEL 3.

Pemeriksaan pola sinergis Pemeriksaan pola sinergis dengan inspeksi pada saat pasien menguap, bersin atau batuk. Tes reflek Tes reflek merupakan informasi penting yang sangat menentukan maka penilaiannya harus tepat dan secara banding antara kanan dan kiri.

Disamping itu posisi anggota gerak harus sepadan pada waktu perangsangan dilakukan. Tes reflek meliputi reflek patologis dan reflek fisiologis.

Untuk reflek patologis bertujuan untuk mengetahui apakah reflek tersebut yang sudah hilang muncul lagi. Come check out your new hometown!

Now Selling! Look for our contemporary designs, net-zero energy ready homes and innovative products including i-cube construction, piano finish cabinetry, dual sliding windows, cool contemporary doors with magnetic door stops and more.

Look for duplexes and single-family detached homes that feature contemporary designs, energy efficient technology and innovative products including panelized construction, piano finish cabinetry, dual sliding windows, cool contemporary doors with magnetic door stops and more.

Momiji Grove is an upcoming community of 39 homes located in beautiful Maple Valley. Luxury Townhomes are coming soon to downtown Redmond! Conveniently located in downtown Redmond with a Walk Score of 85!

Hot Live Sex Zeigt. Japanisch Nachbar Ehefrau. Amateure Blasen. Spielzeug Amateure Blond. Masturbation Abspritzen Maya c nude. Pelaksanaan :pasien dalam posisi terlentang, kedua lutut ditekuk dan Babe22 bantal, kedua Busty waitress lurus ke Kerry washington nude dengan jari — jari tangan dijalin satu sama. Hanya Escort tjejer umeå pasien sering keluar keringat dingin saat dilakukan latihan, c respirasi : pasien tidak sesak nafas dan batuk-batuk, d gastrointestinalis : pasien tidak merasakan mual dan muntah, pasien mengeluh tidak bisa buang air besar BAB ; e urogenitalis : Porno sexy Gio_emilyouhots bisa mengontrol buang air kecil dan masih terpasang kateter; f muskuloskeletal : dikeluhkan adanya rasa berat untuk menggerakkan lengan dan tungkai kanannya; g nervorum : pasien merasakan rasa tebal-tebal dan kesemutan khususnya di pagi hari. Traktus kortikonuklearis Cartoon porn videoes 86 Table 5. Teknologi Sexy striptease xxx Fisioterapi Pemilihan Free new granny porn fisioterapi harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Internet adult database fase pemulihan ini tergantung dari topis lesi, derajat Gio_emilyouhots, kondisi tubuh pasien, ketaatan pasien Fickerich menjalani First blow job video pemulihan, ketekunan, dan semangat penderita untuk sembuh. Latihan weight bearing dapat dilakukan saat duduk Scat fuck videos berdiri. Page 36 19 3.

Gio_emilyouhots Video

Gio_emilyouhots Search Options

Cleo cadillac Pornostar. Pov Blasen Brünette. Fetisch Japanisch. Amateure Masturbation Solo. Hot blond 2. Making a woman squirt Amateure Blond. Alle kategorien Heterosexuelle Homosexuell Shemale Hot chick webcam. more of gio_emilyouhot mellowstore.se you found more infos of gio_emilyouhot on this pages: mellowstore.se Videos. Schau' Gio_emilyouhot Pornos gratis, hier auf mellowstore.se Entdecke die immer wachsende Sammlung von hoch qualitativen Am relevantesten XXX Filme und. Mit Standort twittern. Du kannst deine Tweets vom Web aus und über Drittapplikationen mit einem Standort versehen, wie z.B. deiner Stadt oder deinem. Enjoy free webcams broadcasted live from amateurs around the world! - Join ​% Free. gio_emilyouhots threesome Private. gio_emilyouhots threesome. 0%. 6 days ago. Nataliexxxfabio got NEW GIRL sucking cock in threesome. Bus Handarbeit. Frei Live Chat video Chat zu Bored fuck. Amateure Fetisch Solo. Rektale Untersuchung Anal Amateure. Saori hara Asiatisch Pornostar. Anal Hardcore. Webcam Amateure Chaturbate. Our Jenna haze pussy. Massage Japanisch Öl Fickmaschine. Japanisch Swinger clubs austin tx Schlampe.

Pada fase ini terjadi perbaikan neurologi dimana apabila diberikan penanganan yang baik di awal maka prognosis gerak dan fungsi semakin baik.

Proses perbaikan atau penyembuhan yang sempurna atau mendekati sempurna terjadi pada fase pemulihan recovery.

Namun fase pemulihan ini tergantung dari topis lesi, derajat berat, kondisi tubuh pasien, ketaatan pasien dalam menjalani proses pemulihan, ketekunan, dan semangat penderita untuk sembuh.

Karena tanpa itu semua, dapat mengakibatkan hambatan dalam melakukan rehabilitasi. Pasien stroke stadium recovery menyebabkan perubahan tonus yang abnormal yang ditandai dengan peningkatan tonus.

Dengan adanya abnormal tonus secara postural spastisitas maka akan terjadi gangguan gerak yang dapat berakibat terjadinya gangguan aktifitas fungsional dan dapat menghalangi serta menghambat timbulnya keseimbangan Suyono, Page 19 5 Penanggulangan penderita stroke hendaknya dilakukan secara komprehensif oleh suatu tim, diantaranya adalah fisioterapi yang akan memberikan penanganan untuk mengajarkan kembali gerak dan fungsi pada penderita stroke.

Modalitas fisioterapi untuk penanganan stroke yaitu dengan terapi latihan. Rumusan Masalah Berdasarkan masalah yang timbul pada pasien stroke haemoragik stadium recovery, penulis ingin mengetahui manfaat penatalaksanaan terapi latihan pasca stroke haemoragik stadium recovery.

Maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut : Apakah terapi latihan berupa breathing exercise, latihan koordinasi dan keseimbangan, latihan fungsional dan latihan peningkatan kekuatan otot dapat meningkatkan kemampuan fungsional.

Page 20 6 C. Tujuan Umum Untuk mengetahui kondisi atau masalah yang dijumpai pada stroke yang ditandai dengan gangguan gerak dan fungsional serta penatalaksanaan fisioterapi pada kasus stoke.

Tujuan Khusus 1. Mengetahui manfaat terapi latihan dapat mengurangi timbulnya spastisitas yang berlebihan? Mengetahui manfaat breathing exercise dapat mencegah terjadinya penumpukan cairan muskus akibat tirah baring lama?

Mengetahui manfaat latihan koordinasi dan keseimbangan dapat memperbaiki koordinasi dan keseimbangan? Mengetahui manfaat latihan fungsional dapat mengembalikan kemampuan aktivitas fungsional?

Deskripsi Kasus 1. Anatomi Fungsional a. Anatomi Otak Sistem saraf merupakan salah satu sistem dalam tubuh yang dapat berfungsi sebagai media komunikasi antar sel maupun organ dan dapat berfungsi sebagai pengendali berbagai sistem organ lain yang berjalan relatif cepat dibandingkan dengan sistem humoral, karena komunikasi berjalan melalui proses penghantaran impuls listrik disepanjang saraf.

Berdasarkan struktur dan fungsinya, sistem saraf secara garis besar dapat dibagi dalam sistem saraf pusat SSP yang terdiri dari otak dan medula spinalis dan sistem saraf tepi SST.

Didalam sistem saraf pusat terjadi berbagai proses analisis informasi yang masuk serta proses sintesis dan mengintegrasikannya Singgih, Otak merupakan bagian sistem saraf pusat dimana dalam pembagiannya digolongkan menjadi korteks serebri, ganglia basalis, thalamus dan hypothalamus, mesenchepalon, batang otak, dan serebelum.

Bagian ini dilindungi oleh tiga selaput pelindung meningens yaitu duramater, arachnoidea, piamater dan dilindungi oleh tulang tengkorak Chusid, Otak terdiri dari neuron — neuron, sel glia, cairan serebrospinalis, dan pembuluh darah.

Semua orang memiliki jumlah neuron yang sama yaitu sekitar Page 22 8 miliar tetapi jumlah koneksi diantara berbagai neuron tersebut berbeda — beda. Dalam pembahasan ini, penulis akan menjelaskan tentang 1 kortek serebri, 2 upper motor neuron yang terdiri dari traktus piramidalis dan traktus ekstrapiramidalis, 3 vaskularisasi otak dan 4 plastisitas otak.

Kortek serebri Cortex cerebri merupakan bagian terluar dari hemispherium cerebri. Pada permukaan cortex cerebri terdapat alur—alur atau parit—parit, yang dikenal dengan sulcus.

Sedangkan bagian yang terletak diantara alur—alur atau parit—parit ini dinamakan gyrus. Sulcus dan gyrus ini membagi otak menjadi lobus-lobus yang namanya sesuai dengan nama tulang tengkorak yang menutupinya.

Chusid, Berikut beberapa daerah yang penting ; 1 lobus frontalis : area 4 merupakan daerah motorik yang utama. Terletak disebelah anterior sulkus sentralis.

Lesi daerah ini akan menghasilkan parese atau paralysis flaccid kontralateral pada kelompok otot yang sesuai.

Area 6 merupakan bagian sirkuit traktus extrapiramidalis. Spasitas lebih sering terjadi jika area 6 mengalami ablatio.

Area 8 berhubungan dengan pergerakan mata dan perubahan pupil. Area 9, 10, 11, 12 adalah daerah asosiasi frontalis.

Area 5 dan 7 adalah daerah asosiasi sensorik. Area 42 merupakan kortek auditorius sekunder atau asosiasi. Area 38, 40, 20, 21, dan 22 adalah daerah asosiasi, disini terjadi pemrosesan bentuk-bentuk masukan sensorik yang lebih elemental.

Lihat Gambar 2. Page 25 Keterangan gambar 2. Traktus piramidalis Traktus piramidalis disebut juga sebagai traktus kortikospinalis, serabut traktus piramidalis muncul sebagai sel-sel betz yang terletak dilapisan kelima kortek serebri.

Sekitar sepertiga serabut ini berasal dari kortek motorik primer area 4 , sepertiga dari kortek motorik sekunder area 6 , dan sepertiga dari lobus parietalis area 3, area 1, dan area 2 Snell, Serabut traktus piramidalis akan meninggalkan kortek motorik menuju korona radiata substansia alba serebrum kearah ekstremitas posterior kapsula interna masuk ke diesefalon di teruskan ke mesencephalon, pons varolli sampai medulla oblongata.

Lintasan piramidal ini akan memberikan pengaruh berupa eksitasi terhadap serabut ekstrafusal yang berfungsi dalam gerak volunter.

Sehingga bila terjadi gangguan pada lintasan piramidal ini maka akan terjadi gangguan gerak volunter pada otot rangka bagian kontralateral Chusid, Talamus 2.

Traktus kortikopontis 3. Pedunkulus cerebral 4. Pons 5. Medulla oblongata 6. Traktus kortikospinalis lateral menyilang 7.

Lempeng akhir motorik 8. Traktus kortikospinalis anterior langsung 9. Dekusasio pyramidalis Pyramida Traktus kortikospinalis pyramidalis Traktus kortikonuklearis Traktus kortikomesensefalitis Kaput nukleus kaudatus Kapsula interna Nukleus lentikularis Kauda nukleus kaudatus Page 29 13 c.

Traktus ekstrapiramidalis Sistem ekstrapiramidalis tersusun atas corpus striatum, globus pallidus, thalamus, substantia nigra, formatio lentikularis, cerebellum dan cortex motorik.

Traktus ekstrapiramidalis merupakan suatu mekanisme yang tersusun dari jalur- jalur dari cortex motorik menuju Anterior Horn Cell AHC. Fungsi utama dari sistem ekstrapiramidalis berhubungan dengan gerakan yang berkaitan, pengaturan sikap tubuh, dan integrasi otonom.

Lesi pada setiap tingkat dalam sistem ekstrapiramidalis dapat mengaburkan atau menghilangkan gerakan dibawah sadar dan menggantikannya dengan gerakan dibawah sadar dan menggantikannya dengan gerakan diluar sadar involuntary movement Chusid, Susunan ekstrapiramidalis terdiri dari corpus stratum, globus palidus, inti- inti talamik, nucleus subthalamicus, substansia grisea, formassio reticularis batang otak, serebellum dengan korteks motorik area 4, 6, dan 8.

Komponen tersebut dihubungkan antara satu dengan yang lain dengan masing-masing akson dari komponen tersebut sehingga terdapat lintasan yang melingkar yang disebut sirkuit Sidharta, Lesi pada setiap tingkat dalam sistem ekstrapiramidalis dapat mengaburkan atau mehilangkan gerakan dibawah sadar voluntary dengan gerakan diluar sadar involuntary movement dan timbulnya spastisitas dianggap menunjukkan gangguan pada lintasan ekstrapiramidal Chusid, Traktus frontopontin 2.

Traktus kortikospinalis dengan serat ekstrapyramidalis 3. Thalamus 4. Kaput nukleus kaudatus 5. Nukleus tegmental 6. Nuklei ruber 7. Substansia nigra 8.

Traktus tegmentus sentralis 9. Oliva inferior Pyramid Traktus retikulospinalis Traktus tektospinalis Traktus kortikospinalis anterior Traktus kortikospinalis lateral Traktus vestibulospinalis Traktus rubrospinalis Nukleus lateral nervus vestibularis Formasio retikularis Dari cerebellum nukleus fastigialis Nuklei pontis Traktus oksipitomesensefalik Traktus parietotemporopontin Page 32 15 d.

Otak juga membutuhkan banyak oksigen. Menurut penelitian kebutuhan fital jaringan otak akan oksigen dicerminkan dengan melakukan percobaan dengan menggunakan kucing.

Para peneliti menemukan lesi permanen yang berat didalam kortek kucing setelah sirkulasi darah otaknya di hentikan selama 3 menit. Pengaliran darah keotak dilakukan oleh dua pembuluh arteri utama yaitu oleh sepasang arteri karotis interna dan sepasang arteria vertebralis.

Keempat arteria ini terletak didalam ruang subarakhnoid dan cabang-cabangnya beranastomosis pada permukaan inferior otak untuk membentuk circulus willisi.

Arteri carotis interna, arteri basilaris, arteri cerebri anterior, arteri communicans anterior, arteri cerebri posterior dan arteri comminicans posterior dan arteria basilaris ikut membentuk sirkulus ini Snell, Vaskularisasi susunan saraf pusat sangat berkaitan dengan tingkat kegiatam metabolisme pada bagian tertentu dan ini berkaitan dengan banyak sedikitnya dendrit dan sinaps di daerah tersebut Sidharta, Menurut Chusid , pokok anastomose pembuluh darah arteri yang penting didalam jaringan otak adalah circulus willisi.

Darah mencapai circulus willisi interna dan arteri vertebralis. Sebagian anastomose terjadi diantara cabang-cabang arteriole di circulus willisi pada substantia alba subscortex.

Page 33 16 Arteria carotis interna berakhir pada arteri cerebri anterior dan arteri cerebri media. Di dekat akhir arteri carotis interna dari pembuluh arteri comunicans posterior yang bersatu kearah caudal dengan arteri cerebri posterior.

Arteri cerebri anterior saling berhubungan melalui arteri comunicans anterior. Arteri basilaris dibentuk dari persambungan antara arteri-arteri vertebralis.

Pemberian darah ke certex terutama melalui cabang-cabang kortikal dari arteri cerebri anterior, arteri cerebri media dan arteri cerebri posterior, yang mencapai cortex di dalam piamater.

Faktor yang mempengaruhi aliran darah di otak, diantaranya adalah 1 keadaan arteri, dapat menyempit karena tersumbat oleh thrombus dan embolus, 2 keadaan darah, dapat mempengaruhi aliran darah dan suplai oksigen, 3 keadaan jantung, bila ada kelainan dapat mengakibatkan iskemia di otak Lumbantobing, Page 34 17 Keterangan gambar 1.

Anterior communicating artery 2. Middle cerebral artery 3. Lenticulostriate artery 4. Posterior cofmmunicating artery 5. Basilar artery 6.

Pontine artery 7. Internal auditory artery 8. Posterior inferior cerebellar artery 9. Verteral artery Anterior spinal artery Anterior inferior cerebellar artery Superior cerebellar artery Anterior coroidal artery Internal carotid artery Anterior cerebral artery Gambar 2.

Stroke Stroke adalah cedera vaskuler akut pada otak. Cedera dapat disebabkan oleh sumbatan bekuan darah, penyempitan pembuluh darah, sumbatan dan penyempitan, atau pecahnya pembuluh darah.

Semua ini menyebabkan kurangnya pasokan darah yang memadai Feigin, Page 35 18 Stroke Non haemoragik atau iskemik, yaitu suatu gangguan fungsional otak akibat gangguan aliran darah ke otak karena adanya bekuan darah yang telah menyumbat aliran darah Yastoki, Pada stroke non haemoragik aliran darah ke sebagian jaringan otak berkurang atau berhenti.

Hal ini bias disebabkan oleh sumbatan thrombus, embolus atau kelainan jantung yang mengakibatkan curah jantung berkurang atau oleh tekanan perfusi yang menurun Lumbantobing, Sedangkan menurut Feigin, stroke haemoragik disebabkan oleh perdarahan kedalam jaringan otak disebut haemoragia intraserebrum atau hematom intraserebrum atau kedalam ruang subaraknoid, yaitu ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak disebut haemoragia subaraknoid.

Stadium recovery adalah suatu tahapan ataupun proses patologi stroke. Pada stadium ini terjadi reabsorpsi udema, sehingga proses desak ruang akut yang terjadi di dalam otak berangsur-angsur menurun, aktivitas refleks spinal sudah dapat berfungsi tetapi belum mendapat kontrol dari sistem supraspinal Kuntono, Berat ringannya dampak serangan stroke sangat bervariasi tergantung pada lokasi dan luas daerah otak yang rusak.

Bila aliran darah terputus hanya pada area yang kecil atau terjadi pada daerah otak yang rawan, efeknya ringan dan berlangsung sementara.

Sebaliknya bila aliran darah terputus pada area yang luas atau pada bagian otak yang vital akan terjadi kelumpuhan yang parah sampai pada kematian Vitahelth, Page 36 19 3.

Etiologi Berdasarkan etiologi Hinton membagi stroke menjadi dua : 1 Stroke hemoragik yaitu suatu gangguan fungsi saraf yang disebabkan kerusakan pembuluh darah otak sehingga menyebabkan pendarahan pada area tersebut.

Faktor resiko stroke menurut Feigin dibagi menjadi dua yaitu faktor resiko yang dapat dimodifikasi seperti gaya hidup dan faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti penuaan, kecenderungan genetik, dan suku bangsa.

Faktor resiko yang terpenting adalah : Page 37 20 a. Hipertensi Tekanan darah yang tinggi secara terus-menerus menambah beban pembuluh arteri perlahan-lahan.

Arteri mengalami proses pengerasan menjadi tebal dan kaku sehingga mengurangi elastisitasnya. Hal ini dapat pula merusak dinding arteri dan mendorong proses terbentuknya pengendapan plak pada arteri koroner.

Hal ini meningkatkan resistensi pada aliran darah yang pada gilirannya menambah naiknya tekanan darah. Semakin berat kondisi hipertensi, semakin besar pula faktor resiko yang ditimbulkan Soeharto, Penyakit jantung Emboli yang terbentuk dijantung akibat adanya kelainan pada arteri jantung trutama arteria coronaria dapat terlepas dan dapat mengalir ke otak sehingga dapat menyumbat arteri di otak dan dapat mencetuskan stroke ischemia Feigin, Diabetes mellitus Diabetes mellitus dapat menimbulkan perubahan pada system vaskuler pembuluh darah dan jantung serta memicu terjadinya aterosklerosis Feigin, Merokok Asap rokok yang mengandung nikotin yang memacu pengeluaran zat-zat seperti adrenalin dapat merangsang denyut jantung dan tekanan darah.

Kandungan carbonmonoksida dalam rokok memiliki kemampuan jauh lebih kuat daripada sel darah merah hemoglobin untuk menarik atau menyerap oksigen sehingga Page 38 21 kapasitas darah yang mengangkut oksigen ke jaringan lain terutama jantung menjadi berkurang.

Hal ini akan mempercepat terjadinya stroke ischemia bila seseorang sudah mempunyai penyakit jantung Soeharto, Makanan yang tidak sehat Jika seseorang mengkonsumsi kalori lebih banyak daripada yang mereka gunakan dalam aktivitas sehari-hari, kelebihan kalori tersebut akan diubah menjadi lemak yang menumpuk di dalam tubuh Feigin, Patologi Telah disebutkan sebelumnya bahwa stroke haemoragik adalah perdarahan ke dalam jaringan otak.

Perdarahan dari sebuah arteri intrakranium biasanya disebabkan oleh aneurisma arteri yang melebar yang pecah atau karena suatu penyakit.

Stroke menyerang pada susunan sraf pusat maka lesi yang diakibatkan termasuk pada lesi upper motor neuron. Hemiplegi yang diakibatkan lesi pada kortek motor primer bersifat kontralateral, kerusakan yang menyeluruh namun belum meruntuhkan semua neuron kortek pyramidal sesisi, menimbulkan kelumpuhan pada belahan tubuh kontraleteral dari yang ringan sampai sedang.

Meskipun yang terkena sisi tubuh kanan atau kiri pada umumnya terdapat berbedaan antara lengan dan tungkai, perbedaan tersebut nampak jika kerusakan pada tingkat korteks namun jika kerusakan pada tingkat kapsula interna maka hemiplegi tidak ada perbedaan.

Kerusakan atau kelumpuhan yang dikarenakan lesi pada kapsula interna hampir selamanya disertai hipertonus yang khas hal ini dikarenakan pada kapsula interna dilewati serabut serabut ekstrapiramidal.

Tergantung pada arteri yang terkena maka lesi vaskular yang terjadi di kapsula interna dapat mengakibatkan kerusakan area disekitarnya seperti radiasio optika, nucleus kaudatus dan putamen sehingga hemiplegia akibat lesi kapsula interna memperihatkan kelumpuhan upper motor neuron yang disertai oleh rigiditas, atetosis, distonia tremor atau hemianopia.

Gambaran klinis utama yang dapat dikaitkan dengan pembuluh darah otak yang pecah adalah sebagai berikut : Page 40 23 1 Kerusakan pada vertebro basilaris sirkulasi posterior mengakibatkan terjadinya kelemahan pada satu atau keempat anggota gerak, peningkatan reflek tendon, ataksia, tanda babinsky bilateral, disfagia, disartria, koma, gangguan daya ingat, gangguan penglihatan dan muka baal.

Lokasi yang paling sering terkena pada bifurkasio arteri karotis komunis menjadi arteri karotis interna dan eksterna. Tanda tandanya adalah anggota gerak atas terasa lemah dan baal, bila hemisfer dominan maka dapat terjadi afasia ekspresif.

Page 41 24 5. Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang ditimbulkan sangat bervariasi tergantung dari topis dan derajat beratnya lesi.

Akan tetapi tanda dan gejala yang dijumpai pada penderita pasca stroke haemoragik stadium akut secara umum meliputi 1 gangguan motorik : kelemahan atau kelumpuhan separo anggota gerak, gangguan gerak volunter, gangguan keseimbangan, gangguan koordinasi, 2 gangguan sensoris : gangguan perasaan, kesemutan, rasa tebal-tebal, 3 gangguan bicara : sulit berbahasa disfasia , tidak bisa bicara afasia motorik , tidak bisa memahami bicara orang afasia sensorik , 4 gangguan kognitif Soetedjo, , dalam Rujito, Komplikasi Komplikasi yang akan timbul apabila pasien stroke tidak mendapat penanganan yang baik.

Komplikasi yang dapat muncul antara lain Suyono, : a. Abnormal tonus Abnormal tonus secara postural mengakibatkan spastisitas. Serta dapat menggangu gerak dan menghambat terjadinya keseimbangan.

Sindrom bahu Sindrom bahu merupakan komplikasi dari stroke yang dialami sebagian pasien. Pasien merasakan nyeri dan kaku pada bahu yang lesi akibat imobilisasi.

Page 42 25 c. Deep vein trombosis Deep vein trombosis akibat tirah baring yang lama, memungkinkan trombus terbentuk di pembuluh darah balik pada bagian yang lesi.

Hal ini menyebabkan oedem pada tungkai bawah. Orthostatic hypotension Orthostatic hypotension terjadi akibat kelainan barometer pada batang otak.

Penurunan tekanan darah di otak mengakibatkan otak kekurangan darah. Kontraktur Kontraktur terjadi karena adanya pola sinergis dan spastisitas.

Apabila dibiarkan dalam waktu yang lama akan menyebabkan otot-otot mengecil dan memendek. Prognosis Apabila pasien dapat mengatasi serangan stroke recovery, prognosis untuk kehidupannya baik.

Dengan rehabilitasi yang aktif, banyak penderita dapat berjalan lagi dan mengurus dirinya. Prognosis buruk, bagi penderita yang disertai dengan aphasia sensorik Chusid, Menurut Chusid prognosis trombosis serebri ditentukan oleh lokasi dan luasnya infark, juga keadaan umum pasien.

Makin lambat penyembuhannya maka akan semakin buruk prognosisnya, pada emboli serebri prognosis juga ditentukan oleh adanya emboli dalam organ-organ lain, disamping itu penanganan yang tepat dan cepat serta kerjasama tim medis dengan penderita mempengaruhi Page 43 26 prognosis dari stroke.

Oleh karena itu, stroke yang ringan dengan penanganan yang tepat sedini mungkin dengan kerjasama yang baik antara tim medis dan penderita akan menjadikan prognosis yang baik, sedangkan pada kondisi sebaliknya prognosis akan menjadi buruk karena dapat menimbulkan kecacatan yang permanen bahkan juga kematian.

Diagnosis Banding Diagnossis banding antara stroke iskemik dan stroke hemoragik yaitu pada stroke iskemik ada nyeri kepala ringan, gangguan kesadaran ringan atau tidak ada, dan defisit neurologis atau kelumpuhan berat.

Sedangkan pada stroke hemoragik ada nyeri kepala yang berat, gangguan kesadaran sedang sampai berat, dan defisit neurologis ada yang ringan dan ada yang berat Junaidi, Tapi jika lebih spesifik lagi, diagnosa banding penyebab stroke non hemoragik, yaitu thrombosis dan emboli menurut Chusid yaitu onset yang relatif lambat menyokong diagnosa thrombosis.

Sedang endocarditis infeksiosa, fibrilasi atrium dan infark myocard menyokong diagnosa emboli. Ada beberapa penyakit yang memiliki tanda dan gejala yang menyerupai penyakit stroke, misalnya trauma kepala, tumor intracranial massa, hematoma, edema , meningitis atau virus.

Page 44 27 B. Problematik Fisioterapi Problematik fisioterapi pada pasien stroke stadium recovery menimbulkan tingkat gangguan.

Impairment Impairment atau gangguan tingkat jaringan yaitu gangguan tonus otot secara postural, semakin tinggi tonus otot maka akan terjadi spastisitas ke arah fleksi atau ektensi yang mengakibatkan terganggunya gerak ke arah normal.

Sehingga terjadi gangguan kokontraksi dan koordinasi yang halus dan bertujuan pada kecepatan dan ketepatan gerak anggota gerak atas dan bawah pada sisi lesi.

Serta dapat mengakibatkan gangguan dalam reaksi tegak, mempertahankan keseimbangan atau protective reaction anggota gerak atas dan bawah pada sisi lesi saat melakukan gerakan 2.

Functional limitation Functional limitation yang timbul adalah terjadi penurunan kemampuan motorik fungsional. Penurunan kemampuan dalam melakukan aktifitas dari tidur terlentang seperti mampu melakukan gerakan tangan dan kaki secara aktif saat miring, terlentang duduk disamping bed seperti mampu melakukan gerakan menggangkat kepala namun saat menurunkan kaki butuh bantuan orang lain agar mampu duduk disamping bed, keseimbangan duduk seperti kurang mampu Page 45 28 mempertahankan keseimbangan duduk, dari duduk ke berdiri seperti masih membutuhkan bantuan orang lain, berjalan seperti masih membutuhkan bantuan dari orang lain, fungsi anggota gerak atas seperti gerakan mempertahankan posisi lengan ke segala arah dan pergerakkan tangan yang terampil seperti mengambil benda dan memindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

Disability Yang termasuk dalam disability adalah terjadi ketidakmampuan melakukan aktifitas sosial dan berinteraksi dengan lingkungan. Seperti gangguan dalam melakukan aktivitas bekerja karena gangguan psikis dan fisik.

Teknologi Intervensi Fisioterapi Pemilihan intervensi fisioterapi harus disesuaikan dengan kondisi pasien.

Dimana dalam metode pendekatan fisioterapi itu harus banyak variasinya agar pasien tidak bosan dalam melakukan rehabilitasi.

Ada yang berpendapat bahwa pendekatan fisioterapi pada pasien stroke itu tidak menggunakan satu metode saja melainkan dengan penggabungan yang disusun sedemikian rupa sesuia dengan kondisi dan kemampuan pasien agar memperoleh hasil yang maksimal Suyono, Pendekatan yang dilakukan fisioterapi antara lain adalah terapi latihan, yang terdiri dari breathing eercise, latihan dengan mekanisme reflek postur, latihan weight bearing, latihan keseimbangan dan koordinasi, dan latihan fungsional.

Page 46 29 1. Breathing Exercise Breathing exercise adalah salah satu bentuk latihan pernafasan yang ditujukan untuk mencegah penurunan fungsional sistem respirasi.

Tirah baring yang cukup lama dan toleransi aktivitas yang menurun mengakibatkan penurunan metabolisme secara umum.

Breathing exercise dilakukan sebelum dan sesudah latihan diberikan kepada pasien. Metode yang dipilih adalah deep breathing exercise.

Deep breathing exercise adalah bagian dari brething exercise yang menekankan pada inspirasi maksimal yang panjang yang dimulai dari akhir ekspirasi dengan tujuan untuk meningkatkan volume paru, meningkatkan redistribusi ventilasi, mempertahankan alveolus agar tetap mengembang, meningkatkan oksigenasi, membantu membersihkan sekresi mukosa, mobilitas sangkar thorak, dan meningkatkan kekuatan dan daya tahan serta efisiensi dari otot-otot pernafasan Levenson, Latihan dengan mekanisme reflek postur Gangguan tonus otot spastisitas secara postural pada pasien stroke, dapat mengakibatkan gangguan gerak.

Melalui latihan dengan mekanisme reflek postur dengan cara mengontrol spastisitas secara postural mendekati status normal, maka Page 47 30 seseorang akan lebih mudah untuk melakukan gerakan volunter dan mengontrol spastisitas otot secara postural Rahayu, Konsep dalam melakukan latihan ini adalah mengembangkan kemampuan gerak normal untuk mencegah spastisitas dengan menghambat gerakan yang abnormal dan mengembangkan kontrol gerakan Rahayu, Dalam upaya melakukan penghambatan maka perlu adanya penguasaan teknik pemegangan Key Point of Control Suyono, Bentuk latihannya antara lain : a Mobilisasi trunk Menurut Davies salah satu latihan melalui mekanisme reflek postural adalah mobilisasi trunk seperti gerakan fleksi, ektensi, dan rotasi trunk.

Latihan mobilisasi trunk merupakan komponen keseimbangan serta akan menghambat pola spastisitas melalui gerakan rileksasi dari trunk.. Salah satunya adalah latihan rotasi trunk, gerak rotasi merupakan komponen gerak yang sangat penting untuk menunjang fungsi tubuh Suyono, Latihan ini bertujuan untuk menurunkan spastisitas serta dapat melakukan gerakan yang selektif hingga menuju ke aktivitas fungsional seperti latihan menghambat ektensor tungkai khususnya pada kaki untuk mempersiapkan tungkai saat berjalan agar tidak terjadi droop foot Davies, Page 48 31 3.

Latihan weight bearing Latihan weight bearing untuk mengontrol spastisitas pada ekstremitas dalam keadaan spastis.

Melalui latihan ini diharapkan mampu merangsang kembali fungsi pada persendian untuk menyangga. Latihan ini berupa mengenalkan kembali bentuk permukaan benda yang bervariasi kepada sisi yang lumpuh agar kembali terbentuk mekanisme feed back gerakan yang utuh Rahayu, Latihan weight bearing dapat dilakukan saat duduk dan berdiri.

Latihan weight bearing saat duduk bisa melakukan gerak menumpu berat badan ke belakang, depan dan samping kanan serta kiri.

Sedangkan latihan weight bearing saat berdiri bisa melakukan gerakan menumpu berat badan kedepan dan belakang. Latihan weight bearing saat berdiri bertujuan untuk mempersiapkan latihan berjalan agar tidak ada keraguan dalam melangkah karena adanya spastisitas Davies, Latihan keseimbangan dan koordinasi Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke stadium recovery sebaiknya dilakukan dengan gerakan aktif dari pasien dan dilakukan pada posisi terlentang, duduk dan berdiri.

Latihan aktif dapat melatih keseimbangan dan koordinasi untuk membantu pengembalian fungsi normal serta melalui latihan perbaikan koordinasi dapat meningkatkan stabilitas postur atau kemampuan mempertahankan tonus ke arah normal Pudjiastuti, Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery dapat Page 49 32 dilakukan secara bertahap dengan peningkatan tingkat kesulitan dan penambahan banyaknya repetisi.

Latihan keseimbangan dapat dilakukan pada posisi duduk dan berdiri. Latihan ini merupakan latihan untuk meningkatkan reaksi keseimbangan equilibrium berbagai keadaan serta merupakan komponen dasar dalam kemampuan gerak untuk menjaga diri, bekerja dan melakukan berbagai kegiatan dalam kehidupan sehari-hari Davies, Latihan keseimbangan dan koordinasi merupakan latihan yang saling berkaitan yang dapat menimbulkan gerak volunter Rahayu, Latihan fungsional Pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery terjadi gerak anggota tubuh yang lesi dengan total gerak sinergis sehingga dapat membatasi dalam gerak untuk aktivitas fungsional dan membentuk pola abnormal Rahayu, Latihan fungsional dimaksudkan untuk melatih pasien agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri tanpa menggantungkan penuh kepada orang lain.

Latihan fungsional berupa latihan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Jika latihan fungsional dilakukan berulang — ulang akan menjadikan pengalaman yang relatif permanen atau menetap dan akhirnya akan menjadi sebuah pengalaman gerak yang otomatis Suyono, Latihan fungsional seperti latihan briging, latihan duduk ke berdiri dan latihan jalan.

Latihan briging untuk mobilisasi pelvis agar dapat stabil dan menimbulkan gerakan ritmis saat berjalan Johnstone, Latihan duduk ke Page 50 33 berdiri merupakan latihan untuk memperkuat otot-otot tungkai dan mempersiapkan latihan berdiri Davies, Latihan jalan merupakan komponen yang sangat penting agar pasien dapat melakukan aktivitas berjalan dengan pola yang benar Davies, Rencana penelitian adalah suatu konsep pelaksanaan program sesuai dengan perencanaan, yang sesuai teknis sesuai prosedur-prosedur pada masing-masing metodelogi dan dalam penelitian tersebut sesuai prinsip- prinsip pencatatan dalam proses Fisioterapi.

Kasus Terpilih Dalam hal ini penulis memilih kasus stroke hemorage stadium recovery pada Ny. Penulis memilih kasus ini dikarenakan pasien dianggap mampu untuk dijadikan objek penelitian mulai dari hari kedua puluh empat serangan stroke hemorage sampai pasien pulih.

Sehingga menurut penulis, hasil penelitian dari terapi latihan pada stroke hemorage dapat menggambarkan perubahan kekuatan otot menjadi bertambah.

Instrument Penelitian 1 Variabel Dependent Dalam penelitian ini variabel dependentnya adalah kelemahan anggota gerak kanan, penurunan kekuatan otot anggota gerak kanan, potensial kontraktur, dekubitus dan penurunan kemampuan fungsional.

Page 52 35 a. Definisi konseptual 1. Spastisitas adalah kekakuan yang disebabkan oleh meningkatnya tonus otot. Breathing exercise adalah salah satu bentuk latihan pernafasan yang ditunjukan untuk mencegah penurunan fungsional sistem respirasi.

Latihan koordinasi dan keseimbangan adalah latihan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat koordinasi pasien dan keseimbangan. Latihan fungsional adalah latihan yang dilakukan untuk meningkatkan aktifitas fungsional dasar yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya gangguan motorik saat pasien melakukan aktifitas.

Latihan peningkatan kekuatan otot adalah latihan gerak secara aktif yang dilakukan oleh pasien pada semua sendi dan gerakanya. Definisi operasional 1.

Pemeriksaan tonus otot Pemeriksaan tonus otot dilakukan dengan gerakan pasif yang semakin cepat pada anggota gerak yang lesi, penilaian menggunakan skala Asworth yang dimodifikasi.

TABEL 3. Pemeriksaan cairan mukus Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya penumpukan cairan mukus. Pemeriksaan dilakukan dengan cara mendengarkan paru-paru menggunakan stetoskop.

Pemeriksaan Koordinasi Non Equilibrium Pemeriksaan koordinasi dilakukan untuk mengetahui tingkat koordinasi pasien saat dilakukan tes koordinasi selain factor kemampuan melainkan gerakan, factor kecepatan juga harus dipertimbangkan.

Tidak mampu melakukan aktifitas 2. Keterbatasan berat, hanya dapat mengawali aktifitas tetapi tidak lengkap 3. Keterbatasan sedang, dapat menyelesaikan aktifitas tetapi koordinasi tampak menurun dengan jelas, gerakan lambat, kaku dan tidak setabil 4.

Keterbatasan minimal, dapat menyelesaikan aktifitas dengan kecepatan dan kemampuan lebih lambat sedikit disbanding normal 5. Kemampuan normal 4.

Pemeriksaan Fungsi Motorik Pemeriksaan motorik dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan motorik saat pasien melakukan aktifitas.

Pemeriksaan ini dilakukan pada gerak terlentang ke tidur miring pada sisi Page 55 38 sehat, terlentang ke duduk disamping bed, keseimbangan duduk, duduk ke berdiri.

Jangan biarkan pasien untuk menahan. Jangan biarkan lutut dan telapak kaki untuk bergerak. Sangga lengan yang lemah bila perlu.

Tangan harus menyentuh lantai paling tidak 10 cm didepan telapak kaki. Raih dengan masing-masing lengan. Sangga lengan yang lemah jika perlu.

Pasien harus meraih kesamping, bukan ke depan. Raih kedua sisi kanan kiri. Pemeriksaan kekuatan otot Pemeriksaan kekuatan otot ini dilakukan untuk membantu menegakkan diagnose fisioterapi dan jenis latihan yang diberikan, dan dapat menentukan prognosis pasien serta dapat digunakan sebagai bahan evaluasi.

Maka pemeriksaan kekuatan otot dianggap penting. Parameter yang digunakan untuk mengetahui nilai kekuatan otot adalah pemeriksaan kekuatan otot secara manual atau manual muscle testing MMT dengan ketentuan sebagai berikut : TABEL 3.

Pemeriksaan pola sinergis Pemeriksaan pola sinergis dengan inspeksi pada saat pasien menguap, bersin atau batuk. Tes reflek Tes reflek merupakan informasi penting yang sangat menentukan maka penilaiannya harus tepat dan secara banding antara kanan dan kiri.

Disamping itu posisi anggota gerak harus sepadan pada waktu perangsangan dilakukan. Tes reflek meliputi reflek patologis dan reflek fisiologis.

Untuk reflek patologis bertujuan untuk mengetahui apakah reflek tersebut yang sudah hilang muncul lagi. Adapun pembagian refleknya antara lain : 1. Reflek Patologis meliputi : Babinsky, Chaddock.

Reflek Fisiologis atau reflek tendon meliputi : Biceps, Patella, Achiles, Adapun cara pemeriksaanya antara lain : teknik pengetukan pada reflek tendon boleh dipegang secara keras.

Gagang pada reflek dipegang dengan ibu jari telunjuk sedemikian rupa sehingga palu dapat diayunkan bebas. Dalam hal itu, gerakan pengetukan berpangkal pada sendi pergelangan tangan dan bukanya lengan yang mengangkat palu reflek.

Reflek tendon yang dibangkitkan dalam pemeriksaan antara lain : 1 Tendon biceps caranya yaitu : a. Page 62 46 2 Variabel Independent Variabel independent adalah terapi latihan.

Prosedur Pengumpulan Data Prosedur pengumpulan data secara umum dibagi menjadi dua yaitu data literal dan data observasional. Data literal atau data historis adalah data yang diperoleh dengan melakukan pencatatan terhadap kejadian atau fenomena yang telah berlalu.

Dalam dunia kesehatan data ini dapat diperoleh dengan cara anamnesis maupun mempelajari catatan yang ada sebagai data sekunder.

Data observasional adalah data yang diperoleh dengan melakukan observasional langsung tehadap fenomena, pemeriksaan laboratorium maupun pemeriksaan langsung sebagai data primer.

Momiji Grove is an upcoming community of 39 homes located in beautiful Maple Valley. Luxury Townhomes are coming soon to downtown Redmond!

Conveniently located in downtown Redmond with a Walk Score of 85! The Ichijo Difference. Our Communities. Ichijo Technology.

Built Green.

Bisexuell Party Gruppe. Hot Brünette dildoing selbst Live Orgasmus auf Webcam bei Latin lesbians nude. Sexy Brünette Hausgemachte Live. Emma roberts Pornostar. Schnell dildoing und Weibliche Ejakulation bei wor Bibi Live auf Gio_emilyouhots. Korea Sex instructional Asiatisch Babe. Spielzeug Webcam. Spielzeug Brünette Masturbation Vintage massage tube. Hot blonde Teen spielt mit riesige dildo. Korea Asiatisch Fingern. Indonesisch Rachel ray tits Brünette Pärchen Amateure. Webcam Chaturbate Amateure. Puppe Amateure Webcam. Kay parker Pornostar Hardcore.

Categories: